Stigma Negatif Masih Sering Muncul, Sejumlah Eks Napiter Poso Ingin Hidup Normal

Media Palu Ngataku – Sejumlah Narapidana terorisme (Napiter) Poso, punya keinginan dapat hidup normal di tengah masyarakat.

Sebab selama ini, masih muncul stigma negatif tentang keberadaan eks napiter di tengah masyarakat.

“Memang ada stigma seperti itu. Padahal, kami juga ingin kembali dan berkumpul dengan masyarakat yang lain,” terang FR bersama 5 orang kawannya saat bersilaturahmi dengan Personel Ditintelkam Polda Sulteng di pantai di Kab. Poso.

Dalam kegiatan silaturahmi Polda Sulteng yang diwakili Kompol Safruddin.SE, mantan narapidana teroris yang baru bebas mengungkapkan penyesalannya melakukan dan ikut kegiatan kelompok teroris di Poso, dampak dari perbuatan itu masih dirasakan oleh mereka hingga saat ini.

Seperti yang diungkapkan oleh FR dan RN, Eks napi teroris ini mengatakan keluarga besar menanggung efek dari perbuatannya hingga saat ini.

“Penyesalan terbesar bagaimana keluarga menanggung efek dari perbuatan saya. Efeknya besar. Stigma masyarakat terhadap keluarga saya itu yang terbesar,” Ungkap FR.

FR mengatakan, saat melakukan dan mengikuti kegiatan teroris, dia tidak pernah berpikir akibat bagi dirinya dan orang lain.

“Yang kita pikirkan saat itu bagaimana kita punya rencana ini berjalan lancar. Pada saat melakukan, pikiran dan mata kita sudah tertutup,” kata FR.

Hal senada juga di ungkapkan AR, ia mengaku telah insyaf dan menyadari akan segala perbuatannya. Baginya rencana aksi teroris yang pernah ia lakukan adalah sebuah kesalahan besar dalam memahami arti jihad yang sesungguhnya.

Hingga kini AR juga belum mendapat pekerjaan tetap untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ia berharap masyarakat bisa menerimanya kembali untuk bersosialisasi seperti sediakala.

AR berharap, bisa kembali ke masyarakat memulai kehidupan normal serta bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Terkait hal itu Kompol Safruddin SE mengatakan, intinya kita jangan menutup diri. Jika seperti itu, masyarakat malah takut.

Apalagi, dari unsur aparat dan masyarakat sekitar. Jika kita terbuka, dengan mengikuti kegiatan masyarakat, berkomunikasi dan lain sebagainya, secara lambat laun pasti kembali membuka kepercayaan dari warga sekitar, tambahnya.

“Mereka yang masuk ke dalam jaringan teroris hanyalah salah jalan dalam berjihad,” sambung Safruddin.

Perlu melibatkan banyak pihak, sebagai bentuk upaya pencegahan agar mereka kembali menjadi warga negara yang baik, ungkapnya.

Dengan begitu, apa yang mereka lakukan tidak kembali ke jalan yang salah lagi dan tentu saja akan merugikan orang lain yang tidak berdosa, tutur Syafruddin.

Diakhir pertemuan silaturahmi sejumlah Eks napiter yang baru bebas mengimbau kepada masyarakat khususnya generasi muda di Kabupaten Poso, untuk tidak mudah terpengaruh dan terhasut, baik melalui kajian-kajian keagamaan serta melalui pemberitaan di sosial media (Sosmed) terkait penyebaran paham radikalisme, pungkasnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *